hanafie - I'jaz al-Qur'an


I’jaz al-Quran dan Doktrin al-Shirfah

 

Pengantar

 

Secara historis, al-Qur’an telah membuktikan diri sebagai sesuatu yang mampu menciptakan peradaban dan tradisi tersendiri bagi umat Islam. Lebih-lebih pada dataran teologis, al-Qur’an mampu menciptakan intelektualisme dan heroisme, yang kesemuanya itu berangkat dfari keyakinan dan kebenaran bahwa al-Qur’an adalah Kalam Al-lah serta menjadi kitab suci bagi umat-Nya.

 

Berbagai produk dan karya tulis telah dihasilkan melalui kajian intensif terhadap al-Qur’an, sementara al-Qur’an juga digunakan untuk dijadikan justifikasi bagi tindakan peperangan, melandasi berbagai aspirasi, memelihara berbagai harapan, dan memperkukuh identitas kolektif umat.[1] Ia juga telah melahirkan “seni suara” yang biasanya dilantunkan pada acara-acara resmi ataupun keluarga.[2]

 

Hal inilah, yang kemudian al-Qur’an disebut sebagai Mu’jizat, yang membawa kebenaran universal, mapan, dan berlaku sepanjang zaman.[3] Ke-mu’jizat- an ini, mencakup berbagai sisi dalam al-Qur’an, misalnya kebahasaan, keilmuan, dan seterusnya, yang disusun rapi oleh Allah dan tidak ada siapapun yang mampu menandingi al-Qur’an, meskipun dari aspek kebahasaan.

 

Tetapi, ada juga yang meyakini bahwa ketidak mampuan manusia tersebut, melainkan adanya usaha Allah untuk mengalihkan atau menghalangi manusia dalam membuat semacam al-Qur’an. Pemahaman ini kemudian melahirkan doktrin al-Shirfah dalam Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengertian I’jaz al-Quran

 

Kata Mu’jizat sebenarnya tidak ada dalam al-Qur’an.[4] Namun untuk menerangkan istilah ini, al-Qur’an menggunakan istilah ayat atau bayyinat. Yang pertama merujuk pada makna pengkabaran Ilahi, yang berupa ayat suci al-Qur’an, QS. Ali imran : 82, 118, 252, QS. al-An’am : 4, QS. Yunus : 7 dan 150, dan al-Baqarah : 159. sedangkan yang kedua, berarti mencakup pengertian mu’jizat atau tanda bukti, QS. Ali Imran : 49, Al-A’raf : 105 dan 126, al-Mu’min : 78, al-Nahl : 44, serta Thoha : 72.[5]

 

Secara etimologis, mu’jizat berasal dari ‘ajaza, yang berarti tidak mampu atau tidak kuasa.[6][7] Sementara secara terminologi, Imam al-Syuyuti mengatakan bahwa mu’jizat adalah sesuatu yang luar biasa, yang disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.[8] Al-Zarqani mendefinisikan mu’jizat sebagai perkara yang luar biasa, yang keluar dari batas-batas sebab yang dikenal. Dia diciptakan oleh Allah atas orang yang mengaku sebagai Nabi, yang menjadi saksi dari kebenaran risalah yang dibawanya.[9] Sedangkan kata mu’jizat itu sendiri berarti “sesuatu yang keluar dari kebiasaan yang menjadikan manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengemukakan hal semisal”.

 

Sedangkan menurut M. Bakr Ismail, mu’jizat adalah sesuatu hal yang luat biasa yang disertai tantangan, yang Allah jadikan pada diri Nabi sebagai bukti kebenaran da’wah-nya.[10] Sementara Quraish Shihab mengungkapkan mu’jizat sebagai sesuatu hal yang luar biasa, yang terjadi melalui seorang yang mengaku sebagai Nabi. Sebagai bukti kenabiannya, yang ditantang kepada orang yang ragu untuk melakukan dan mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu.[11]

 

Oleh karena itu, ada unsur-unsur penting yang harus menyertai mu’jizat ini. Pertama, sesuatu yang berasal dari Allah. Kedua, sesuatu hal atau peristiwa yang luar biasa, yang keluar dari hukum-hukum alam (sunnatullah). Ketiga, ia terjadi pada diri Nabi atau Rasul. Keempat, ada tantangan bagi orang-orang yang meragukan hal tersebut. Kelima, tidak seorangpun mampu menandinginya.[12]

 

Al-Qur’an yang diyakini berasal dari Allah dan diturunkan kepada Muhammad sebagai utusan-Nya, adalah bagian dari ke-mu’jizat-an Nabi Allah kepada manusia. Jika pada masa turunnya risalah Allah, mu’jizat ini lebih menekankan pada sisi indrawi saja, yaitu seperti Musa dengan tongkatnya, Isa dengan kemampuan menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah, maka al-Qur’an menurut al-Syuyuti mempunyai dua sisi ke- mu’jizat-an sekaligus ; bersifat indrawi (Hasyiyah) dan bersifat logis (‘Aliyah).[13] Selain mampu ditangkap secara indrawi, al-Qur’an dapat dipahami oleh akal dan ia tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu.

 

Oleh karena itu Di samping itu, Al-Qur'an dapat dikategorikan sebagai mu'jizat karena ia; Pertama, Al-Qur'an memuat tantangan kepada manusia untuk membuktikan kebenarannya. Ada dua jenis tantangan yang dilontarkan Al-Qur'an, pertama tantangan umum. Allah berfirman: "Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (Q5. al-Isra: 88). Tantangan ini bersifat kekal, sejak zaman rasul hingga akhir nanti. Dan berlaku untuk semua manusia di setiap tempat. Tantangan kedua bersifat khusus."Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat semisal Al-Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar". (QS. 52:34). Tantangan ini khusus ditujukan untuk orang-orang kafir. Di ayat lain, Allah berfirman: "Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al-Qur'an itu". Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datanglah sepuluh surat-surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang yang benar.'(QS. Hud:13).

 

Kedua, mereka tertantang untuk membuktikan kebenaran Al-Qur'an. Banyak pihak telah berusaha untuk menjawab tantangan Al-Qur'an ini, sejak zaman Musailamah Al -Kadzab - sampai para orientalis dan atheis serta Israelis. Mereka terus berupaya dengan berbagai cara untuk melawan tantangan Al-Qur'an. Mulai dengan membuat surat baru, seperti yang dilakukan Musailamah Al-Kadzab dengan membuat surat difda' (kodok) yang ingin menyerupai surat Al-Fiil (Gajah) - sampai usaha untuk mengaburkan dan mempropagandakan bahwa Al-Qur'an buatan Rasulullah atau upaya mengubah isi ayat Al-Qur'an seperti apa yang dikenal sebagai Qur'an Israeliyat.

 

Ketiga, tak ada yang dapat menjawab tantangan Al-Qur'an itu. Hingga kini Al-Qur'an tetap seperti bentuknya semula seperti apa yang diterima oleh Rasulullah SAW dari Jibril As. Bahkan "qiraat sab'ah" (qiraat tujuh) - tentang bagaimana cara Nabi membaca Al-Qur'an - hingga kini tetap terjaga dan dimiliki oleh sebagian muslim dengan sanad cara membacanya yang sampai kepada Rasulullah SAW. Bahkan masih banyak muslim yang hafidz Al-Qur'an di seluruh bumi, Allah berfirman:"Sesungguhnya Kamilah menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya". (QS. 15: 9).

 

 

 

Aspek Ke-Mu’jizat-an al-Qur’an

 

Menurut al-Qurtubi,[14] ada sepuluh aspek ke-mu’jizat-an al-Qur’an. Pertama, keindahan komposisi bahasa Arab yang berbeda dengan komposisi sastra manapun. Kedua, gaya bahasa yang unik dan berbeda dengan gaya bahasa Arab biasa. Ketika, memuat konsep-konsep yang tidak mungkin ditiru oleh makhluq-Nya. Keempat, penetapan syari’ah yang sempurna dan melampaui segala hukum ciptaan manusia. Kelima, pemberitaan ghaib yang hanya diketahui oleh wahyu. Keenam, tidak kontradiktif dengan kepastian ilmu-ilmu alam. Ketujuh, pemenuhan janji baik atau buruk yang telah dijanjikan oleh ayat-ayat sebelumnya. Kedelapan, kekayaan yang terkandung dalam ilmu pengetahuan, yaitu berupa ilmu syari’ah atau ilmu alam. Kesembilan, kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan Kesepuluh, pesona yang dikandung oleh al-Qur’an pada setiap orang yang membaca. Lebih dari itu, al-Zarqani, mencatat ke-mu’jizat-an al-Qur’an sebanyak enam belas.[15]

 

Sebagian Ulama’, berpendapat bahwa aspek ke-mu’jizat-an al-Qur’an terletak pada kualitas balghoh-nya, yang tidak ada bandingannya. Kelompok ini merupakan para ahli bahasa Arab yang kaya dengan perasaan dan bentuk-bentuk makna yang hidup dalam untaian kata-kata yang lain. Berkeyakinan bahwa aspek ke-mu’jizat-an al-Qur’an, terletak pada pemberitaannya tentang hal-hal yang ghaib, yang akan datang, atau prediksi masa depan diluar kadar kemampuan manusia.

 

Semua pendapat diatas, pada dasarnya tidak keluar dari orientasi yang sama, bahwa al-Qur’an adalah bayan (penjelasan, retorika) dan nazam (jelmaan) yang seirama dengan nafas kehidupan manusia dan alam, yang makna-maknanya telah menyingkap tabir hakikat kemanusian dan misinya dialam kosmos ini. Oleh karena itu, penulis ingin mencoba menguraikan sedikit (dengan segala keterbatasan) tentang aspek-aspek tersebut dalam tiga hal ; yaitu aspek bahasa, ilmu pengetahuan, dan pemberitaan ghaib.

 

A.     Aspek Bahasa

 

Dari aspek bahasa, al-Qur’an merupakan bahasa bangsa Arab Quraisy yang mengandung unsur sastra yang sangat tinggi mutunya. Ketinggian mutu sastra al-Qur’an ini, meliputi berbagai segi, kaya akan perbendaharaan kata-kata, padat akan makna yang dikandung, penyusunan redaksi yang menakjubkan, keseimbangan-keseimbangan yang sangat serasi antara redaksi yang digunakan, sehingga tidak heran jika kemudian Syeikh Nashif al-Jaazidy, ketika memberikan nasehat kepada anaknya, Ibrahim, mengenai kualitas sastra al-Qur’an ini, berkata “apabila kamu ingin mengatasi teman-teman kamu dibidang kesusastraan dan karang-mengarang, maka hendaklah kamu menghafal al-Qur’an”.[16]

 

Susunan kalimat dan gaya bahasa al-Qur’an, yang tidak terikat oleh pola atau susunan syair atau sajak pada saat itu, justru semakin menunjukkan keistimewaan al-Qur’an yang mencakup semua bentuk puisi dan prosa.[17] Keharmonisan irama yang muncul dari rangkaian kata dan kalimat dalam setiap lafadz dan ayat-ayat al-Qur’an, semakin memberikan ekspresi keindahan pada setiap qalbu pendengarnya.[18]

 

Lihatlah misalnya, ungkapan al-Qur’an berikut ini ;

 

 

Pada hari itu (hari kiamat) wajah (orang-orang yang beriman) elok berseri seri, kepada Tuhannya mereka memandang. Dan wajah (orang-orang kafir) pada hari itu suram dan muram (karena) yakin bencana dahsyat akan menimpa diri mereka” .

 

 

 

Lafadz “elok berseri-seri” (nadhirah), menerangkan keadaan seseorang yang bahagia dengan lukisan warna yang sangat segar. Sementara lafadz “suram-muram” (bashirah) menerangkan bagaimana keadaan orang-orang kafir dengan kalimat yang paling memuakkan. Dan ketika kita ingin mendengar bisikan huruf-huruf sin yang berulang-ulang, maka kita bisa merasakan istilah tersebut dalam keringanan bunyi suara-Nya.

 

 

sesungguhnya Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam. Demi malam bila hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh bila fajar menyingsing

 

 

 

Abdu Razzaq Nawfal, menyebutkan sekian banyak contoh tentang keserasian redaksi kebahasaan al-Qur’an, yaitu memuat susunan keseimbangan kata-kata yang digunakan seperti keserasian jumlah dua kata yang bertentangan, jumlah kata yang sinonim, jumlah bilangan kata, jumlah kata yang menunjukkan pada akibatnya, jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya, juga keseimbangan lainnya.[19]

 

Keserasian jumlah dua kata yang bertentangan, misalnya :

 

-         Al-Hayat (hidup) dan al-Maut (mati) masing-masing sebanyak 145 kali.

 

-         Al-Naf’ (manfaat) dan al-Madhorat (mudhorot) masing-masing sebanyak 50 kali.

 

-         Al-Har (panas) dan al-Bard (dingin) masing-masing sebanyak 4 kali.

 

-         Al-Sholihat (kebajikan) dan al-Sayyi’at (keburukan) masing-masing sebanyak 167 kali.

 

-         Al-Thuma’ninah (kelapangan/ketenangan) dan al-Dhiq (kesempitan / kesal) masing-masing sebanyak 13 kali.

 

-         Al-Rahbah (cemas / takut) dan al-Raghbah (harap / ingin) masing-masing sebanyak 8 kali.

 

-         Al-Kufr (kekufuran) dan al-Iman (keimanan) masing-masing sebanyak 17 kali, yang definitif dan yang indefinitif masing-masing sebanyak 8 kali.

 

-         Al-Shayf (musim panas) dan al-Syita (musim dingin) masing-masing sebanyak 1 kali.

 

Keserasian jumlah bilangan kata dengan sinonim yang dikandungnya, misalnya ;

 

-         al-Harts dan al-Zira’ah (membajak atau bertani) masing-masing sebanyak 14 kali

 

-         al-‘Ushb dan al-Dhuhur (membanggakan diri atau angkuh) masing-masing sebanyak 27 kali

 

-         al-Dhallun dan al-Mawta (orang sesat atau mati jiwanya) masing-masing sebanyak 17 kali

 

-         al-Qur’an, Wahyu dan al-Islam masing-masing sebanyak 70 kali

 

-         al-Jahr dan al-‘Alaniyyah (nyata) masing-masing sebanyak 16 kali

 

-         al-‘Aql dan al-Nur (akal dan cahaya) masing-masing sebanyak 49 kali

 

Keseimbangan antara jumlah bilangan kata yang menunjukkan kepada akibatnya, misalnya ;

 

-         al-Infaq (infaq) dengan al-Ridha (kerelaan) masing-masing sebanyak 73 kali

 

-         al-Bukhl (kikir) dengan al-Hasarah (penyesalan) masing-masing sebanyak 12 kali

 

-         al-Kafirun (orang-orang kafir) dengan al-Nar atau al-Ahraq (neraka atau pembakaran) masing-masing sebanyak 154 kali

 

-         al-Zakah (zakat / penyucian) dengan al-Barakah (kebajikan yang banyak) masing-masing sebanyak 32 kali

 

-         al-Fahisyah (kekejian) dengan al-Ghadhb (murka) masing-masing sebanyak 26 kali

 

Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya, misalnya ;

 

-         al-Israf  (pemborosan) dengan al-Sur’ah (ketergesa-gesaan) masing-masing sebanyak 23 kali

 

-         al-Mau’idhah (nasihat / petuah) dengan al-Lisan (lidah) masing-masing sebanyak 25 kali

 

-         al-Asra (tawanan) dengan al-Harb (perang) masing-masing sebanyak 6 kali

 

-         al-Salam (kedamaian) dengan al-Thayyibat (kebajikan) masing-masing sebanyak 60 kali

 

Sementara itu, ada keseimbangan jumlah kata yang mempunyai makna-makna khusus terhadap realitas penciptaan-Nya, misalnya kata al-Yawm (hari) dalam bentuk tungggal 365 kali, sebanyak jumlah hari dalam setahun. Sementara kata hari yang menunjukkan kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yaumayni) berjumlah 30 kali, sebanyak jumlah hari dalam satu bulan. Sedangkan kata yang berarti bulan (syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa langit ada “tujuh”. Penjelasan ini, diulang dalam al-Qur’an sebanyak 7 kali pula, yaitu pada QS. al-Baqarah ; 29, QS. al-Isra ; 44, QS. al-Mu’minun ; 86, QS. al-Fushilat ; 12, QS. al-Mulk ; 3 dan QS. Nuh ; 15.

 

Dengan konsep bahwa karakter kebahasaan al-Qur’an yang luar biasa ini, yang kemudian teraplikasi pada kemustahilan manusia untuk melakukan peniruan semisal al-Qur’an, maka menterjemahkan al-Qur’an (dalam artri yang sebenarnya) juga mejadi sebuah kemustahilan. Bahkan, jika ada yang mengklaim bahwa ia mampu menterjemakan bahasa al-Qur’an kedalam bahasa manusia, yang terjadi justru hilangnya karakter ke-mu’jizat-an al-Qur’an itu sendiri., sebab itu berasal dari manusia.[20]

 

B.     Aspek Ilmu Pengetahuan

 

Hakikat ilmiah yang disinggung dalam al-Qur’an, dikemukan dalam redaksi yang singkat dan sarat akan makna. Ketika pengetahuan itu belum ditemukan, al-Qur’an pada dasarnya telah memberikan isyarat tentangnya, dan al-Qur’an sendiri tidaklah mempunyai pretensi pertentangan dengan penemuan-penemuan baru yang dihasilkan oleh penelitian-penelitian ilmiah. Misalnya, al-Qur’an berbicara mengenai awan. Proses pembentukan hujan dimulai dengan pembentukan awan tebal karena adanya dorongan angin sedikit demi sedikit (perhatikah ayat berikut “tidakkah kamu melihat (bagaimana) Allah menggerakkan awan, kemudian mengumpulkan (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kamu lihat hujan keluar dari celah-celah (awan). (QS. 24 : 43.). Para ilmuan kemudian menjelaskan bahwa awan tebal bermula dari dorongan angin yang mengiringi ke-awan-awan kecil, menuju ke convergence zone (daerah pusat pertemuan awan). Pergerakan bagian-bagian awan ini, menyebabkan bertambahnya jumlah uap air dalam perjalanannya, terutama pada convergece zone itu.

 

Meskipun ada sekian kebenaran ilmiah yang dipaparkan oleh al-Qur’an, tetapi tujuan itu semua hanya untuk menunjukkan kebesaran Tuhan dan keunikan al-Qur’an itu sendiri. Sehingga Mahmud Syaltul pernah menyatakan dalam tafsirnya, “sesungguhnya Tuhan tidak menurunkan al-Qur’an untuk menjadi suatu kitab yang menerangkan kepada manusia mengenai teori-teori ilmiah, problem seni, serta aneka warna pengetahuan, melainkan sebagai suatu kitab petunjuk, ishlah, dan tsyri’”.[21]Haqaiq al-Kauni (kebenaran-kebenaran ilmiah di alam semesta) pada dasarnya bermuara pada pengabdian kepada-Nya. Misalnya, keterangan tentang salah satu shahabat Nabi yang bertanya mengenai bulan yang kadang kecil bagai benang, kemudian membesar sampai menjadi purnama. Lalu Allah berfirman “mereka bertanya kepadamu perihal bulan,katakanlah bulan itu untuk menentukan waktu bagi manusia dan mengerjakan haji”. (QS. al-Baqarah ; 189).[22] Pernyataan Syaltut ini, karena mungkin berangkat dari asumsi bahwa semua

 

C.     Aspek Pemberitaan Ghaib

 

Selain penegasan al-Qur’an terhadap kebenaran ilmiah, al-Qur’an juga meyakinkan kepada pembacanya bahwa al-Qur’an mampu memprediksi masa depan (nubuwah), kejadian-kejadian pada masa Nabi atau Umat terdahulu, dan kejadian besar yang akan menimpa kaum muslim sepeninggal Nabi.[23]

 

Al-Qur’an juga berisi tentang pengetahuan yang kemudian baru diketemukan pada ribuan tahun setelah al-Qur’an turun, misalnya kesatuan alam,[24][25][26] khasiat madu,[27] dll., yang kesemuanya itu terbukti sampai saat ini. terjadinyaperkawinan dalam tiap-tiap benda, perbedaan sidik jari manusia,

 

 

 

Doktrin al-Shirfah

 

Demikianlah beberapa hal tentang kandungan al-Qur’an, yang sebagian orang beranggapan bahwa itu semua adalah sebuah kebetulan belaka. Kalaulah asumsi ini diterima, tetapi bagaimana dengan bukti sejarah bahwa belum ada tulisan yang menyamai ungkapan-ungkapan ringkas dan padat seperti bahasa al-Qur’an tersebut? Oleh karena itu, lahirlah sebuah pemahaman bahwa ketidakmampuan manusia untuk membuat tulisan yang menyamai semisal al-Qur’an karena adanya usaha Allah untuk memalingkan manusia untuk tidak dapat menandingi al-Qur’an. Menurut kelompok ini, ada bukti-bukti sejarah yang mengisyaratkan bahwa bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an pada dasarnya adalah bahasa biasa. Misalnya, Pertama, ketika Abu Bakar ingin mengumpulkan al-Qur’an, ia menyuruh Zaid dan umar untuk mengumumkan kepada setiap orang yang memiliki naskah al-Qur’an agar membawa naskah tersebut ke masjid. Naskah yang diterima adalah naskah yang diperkuat oleh dua orang saksi. Sekiranya al-Qur’an mempunyai keistemewaan bahasa tersendiri yang membedakan dari bahasa Arab pada umumnya, tentu tidak diperlukan lagi adanya saksi.

 

Kedua, suatu ketika Nabi pernah menyuruh penulis wahyu, Abdullah bin Sarah menulis ayat yang dimualai dengan kalimat :

 

 
 
 

 


 

sampai dengan ayat :

 

 

kemudian Nabi berhenti. Kemudian Abdullah dengan kata-katanya sendiri melanjutkan ;

 

 

Kata-kata terahir ini dimasukkan Nabi sebagai ujung ayat, dan meminta kepada Abdullah menuliskannya karena begitulah sesungguhnya ayat yang turun.

 

Ketiga, Umar Ibn Khattab pernah mengusulkan agar makam Ibrahim dijadikan musholla dengan kalimat yang berbunyi :

 

 

tidak lama kemudian turun ayat ;

 

 

            Akan tetapi, pemahaman yang demikian itu menjadi sebuah kemustahilan, jika dihadapkan pada kenyataan bahwa apa yang dilakukan Zaid tersebut adalah upaya untuk meyakinkan kepada Abu Bakar kalau al-Qur’an yang ditulisnya benar-benar bersumber dari Nabi. Kemudian pada kasus Abdullah bin Sarra dan Umar diatas, bisa jadi mereka memiliki kemampuan menyusun sebuah ayat, akan tetapi ke-mu’jizat-an al-Qur’an tidak didasarkan pada ayat, melainkan pada surat.

 

            Doktrin al-Shirfah ini, pertama kali dianut oleh kaum Mu’tazilah, yang menjadi promotornya adalah Isa Ibn Shabih al-Mizdar[28] dan kemudian diteruskan oleh al-Nazham. Tokoh-tokoh lainnya adalah al-Jahizh murid dari al-Nazham al-Rumani. Lalu Ibn Sinar al-Khaffaji dari kelompok Syi’ah, seorang penulis buku Sirru al-Fashohah, lalu Abu Ishak al-Isfaraini, dan Imam MuhammadIbn Hazm, yang menulis buku al-Fisha fi al-Milal wa al-Nihal.[29]

 

Penutup

 

Ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur'an adalah firman-firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (al-A’raf:158) yang hidup pada awal abad ke-enam Masehi (571-632M). Di antara ayat-ayat tersebut umpamanya: al-Zumar:6; alAn’am:125; al-Mu’minun:12,13; al-Dzariyah:49; Fushilat:11-41; Luqman:30-33; dan lain-lain. Demikian juga ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah seperti tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba', Tsamud, 'Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa, dan lain-lain dapat memberikan keyakinan kepada kita bahwa al-Qur'an adalah wahyu Allah bukan ciptaan manusia.

 

Ayat-ayat yang berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen dan lain-lain juga menjadi bukti lagi kepada kita bahwa al-Qur'an adalah wahyu Allah swt (al-Ruum:2-4; 5:14). Bahasa al-Qur'an adalah mu'jizat terbesar sepanjang masa, keindahan bahasa dan kerapian susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku bahasa Arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur tapi mudah dimengerti adalah merupakan ciri dari gaya bahasa al-Qur'an. Karena gaya bahasa yang demikianlah 'Umar bin Khathab masuk Islam setelah mendengar awal suratsurat Fushshilat yang dikemukakan Rasulullah sebagai jawaban atas usaha-usaha bujukan dan diplomasinya. Bahkan Abu Jahal musuh besar Rasulullah, sampai tidak jadi membunuh Nabi karena mendengar surat adh-Dhuha yang dibaca nabi. Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah. Abul Wahd, diplomat Quraisy waktu itu, terpaksa cepat-cepat pulang begitu mendengar beberapa ayat dari Wallahu A’lam.

Daftar Pustaka

Abu Zahra. 1991. Al-Quran dan Rahasia Angka-Angka,  Jakarta : Pustaka Hidayah.

Ali al-‘Amiri, 1491. Haul I’jaz al-Qur’an,  Kairo : Mathobi’ Rauz al-Yusuf al-Jadidah.

Al-‘Azhim Ibrahim al-Matha’aini. 1992. Khashoits al-Ta’bir al-Qur’an, juz I (Kairo : Maktabah Wahbah. .

Ahmad Warson al-Munawir, 1997. al-Munawir ; Kamus Arab – Indonesia, (Surabaya : Pustaka Progressif. 1997) hlm. 898.M. Arkoun. Berbagai Pembacaan al-Qur’an, (Jakarta : INIS.

Al-Munjid. 1987. Fi Lughoh wa al-A’lam, (Beirut : al-Maktab al-Syarqiyyah. 

Hashbi al-Shiddsiqi, 1966, Mu’jizat al-Qur’an,  Jakarta Bulan Bintang.

Jalaluddin al_Syuyuti, tth. al-Itqan fi Ulum al-Qur’an,  Kairo : Dar al-Fikr

Manna Khalil al-Qattan, 1993. Mabaits fi Ulum al-Qur’an,  Riyadh : Mantsurat Ashr al-hadid 

M. Ismail ibrahim. Tth.  al-Qur’an wa I’jazuha, Mesir : Dar al-Fikr.

M. Abu ‘Adhim al-Zarqani. Tth. Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an, Mesir : Dar al-Kutub

Muhammad Bakr Ismail. 1991. Diratsat fi ulum al-Qur’an, Mesir : Dar al-‘Inad. 

M. Quraish Shiahab. 1997, Mu’jizat al-Qur’an ditinjau dari Aspek Kebahasan, Isarat Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib. Bandung : Mizan

M. Quraish Shihab. 1994, Membumikan al-Qur’an ; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat,  Bandung : Mizan 

M. Quraish Shiahab, 2000, Tafsir al-Misbah,  Bandung : Mizan 

Muhammad Ali al-Shobuny. tth , al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, (trj. Oleh M. Qadirun Nur).  Jakarta : Pustaka Amani

Munzir Hitami. 2005, Menangkap Pesan-Pesan Allah ; Mengenal Wajah-Wajah Hermeneutika al-Qur’an Kontemporer.  Pekanbaru : UIN Press

Mahmud Syaltut,  tth,  Tafsir al-Qur’an al-Karim, (Kairo : Dar al-Kalam.

Said Agil Husein al-Munawar. 2003. al-Qur’an Membangun Trdisi Kesalehan Hakiki,  Jakarta : Ciputat Press

Taufiq Adnan Amal. 2001, Rekontruksi Sejarah al-Qur’an.  Yogyakarta : FkBA. .

W. Montgomery Watt. 1970. Bells Introduction to The Qur’an, Edinburgh : Edinburgh university Press



[1] M. Arkoun. Berbagai Pembacaan al-Qur’an, (Jakarta : INIS. 1997) hlm. 9.

[2] W. Montgomery Watt. Bells Introduction to The Qur’an, (Edinburgh : Edinburgh university Press. 1970) hlm. xi

[3] M. Ismail ibrahim. al-Qur’an wa I’jazuha, (Mesir : Dar al-Fikr. tth) hlm 12.

[4] Said Agil Husein al-Munawar. al-Qur’an Membangun Trdisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta : Ciputat Press. 2003) hlm. 70.

[5] Ibid.

[6] Ahmad Warson al-Munawir, al-Munawir ; Kamus Arab – Indonesia, (Surabaya : Pustaka Progressif. 1997) hlm. 898.

[7] Al-Munjid. Fi Lughoh wa al-A’lam, (Beirut : al-Maktab al-Syarqiyyah. 1987) hlm. 488.

[8] Jalaluddin al_Syuyuti, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, (Kairo : Dar al-Fikr. tth) hlm. 116. pengertian ini juga dipertegas oleh Manna Khalil al-Qattan, Mabaits fi Ulum al-Qur’an, (Riyadh : Mantsurat Ashr al-hadid. 1993) hlm. 116.

[9] M. Abu ‘Adhim al-Zarqani. Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an, (Mesir : Dar al-Kutub. tth) hlm 226.

[10] Muhammad Bakr Ismail. Diratsat fi ulum al-Qur’an, (Mesir : Dar al-‘Inad. 1991) hlm. 390.

[11] M. Quraish Shiahab. Mu’jizat al-Qur’an ditinjau dari Aspek Kebahasan, Isarat Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib (Bandung : Mizan. 1997) hlm. 23.

[12] Bandingkan dengan Muhammad Ali al-Shobuny. al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, (trj. Oleh M. Qadirun Nur). (Jakarta : Pustaka Amani. tth) hlm 130 – 131.

[13] Jalaluddin al-Syuyuti, Loc cit,

[14] Dikutip dari buku Munzir Hitami. Menangkap Pesan-Pesan Allah ; Mengenal Wajah-Wajah Hermeneutika al-Qur’an Kontemporer. (Pekanbaru : UIN Press. 2005) hlm. 40.

[15] al-Shobuny. Op cit, hlm. 136.

[16] Lihat Hashbi al-Shiddsiqi, Mu’jizat al-Qur’an, (Jakarta Bulan Bintang. 1966) hlm. 36.

[17] Said Agil Husein al-Munawar. Op cit, hlm. 35.

[18] Ibid, hlm 36.

[19] Di kutip dari M. Quraish Shihab. Membumikan al-Qur’an ; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung : Mizan. 1994), hlm 29 – 31.

[20] Taufiq Adnan Amal. Rekontruksi Sejarah al-Qur’an. (Yogyakarta : FkBA. 2001) hlm. 346.

[21] Mahmud Syaltut,  Tafsir al-Qur’an al-Karim, (Kairo : Dar al-Kalam. tth) hlm 21 – 22.

[22] Lihat pula penafsiran M. Quraish Shiahab dalam Tafsir al-Misbah, (Bandung : Mizan. 2000) hlm 390 – 392.

[23] Bandingkan Abu Zahra. Al-Quran dan Rahasia Angka-Angka, (Jakarta : Pustaka Hidayah. 1991) hlm. 13.

[24] QS. al-Anbiya’ : 30

[25] QS. al-Dzariyat : 49.

[26] QS. al-Qiyamah : 2 – 3.

[27] QS. al-Nahl : 69.

[28] Isa Ibn Shahib al-Misdhar adalah salah satu tokoh kaum Mu’tazilah. Ia memiliki kemampuan fashohah yang indah. Ia mempunyai peran penting dalam menyebarkan paham tersebut di Baghdad. Kepribadiannya yang zahid dan kemampuannya dalam mengungkap nasihat-nasihat agama, menjadikannya dijuluki sebagai rahi mu’tazilah. Lihat Ali al-‘Amiri, Haul I’jaz al-Qur’an, (Kairo : Mathobi’ Rauz al-Yusuf al-Jadidah. 1491 H) hlm. 157.

[29] Al-‘Azhim Ibrahim al-Matha’aini. Khashoits al-Ta’bir al-Qur’an, juz I (Kairo : Maktabah Wahbah. 1992) hlm 115.

Today, there have been 16 visitors (37 hits) on this page!

=> Do you also want a homepage for free? Then click here! <=