hanafie - Menghadirkan Pengalaman Orang lain


Seorang pemuda menemui Rasulullah sambil berkata “Ya Nabi Allah, izinkan saya berzina”. Para shahabat langsung berteriak marah kepada pemuda itu, ketika mendengar permintaan tersebut. Tetapi Nabi malah menyuruh pemuda itu untuk mendekat kepadanya “suruh dia mendekat pada ku” kata Nabi. Pemuda itu lalu menghampiri Nabi dan duduk dihadapannya. Nabi kemudian bertanya “apakah kamu suka orang lain menzinai ibumu?” Segera pemuda itu menjawab, “semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu”. Nabi lantas bersabda “begitu pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka. Sukakah kamu jika perzinahan itu menimpa pada anak perempuanmu?”. “Tidak, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu” jawab pemuda itu. “Begitu pula orang lain, tidak ingin perzinahan itu terjadi pada anak prmpuannya. Sukakah kamu, jika perzinahan itu terjadi pada saudara perempuanmu?”. Begitulah seterusnya, Nabi menyampaikan pertanyaan-pertanyaan sembari menyebut bibi dari pihak Ibu dan Bapak dan seterusnya. Untuk semua pertanyaan tersebut, pemuda itu menjawab “tidak”. Rasulullah kemudian meletakkan tangannya yang mulia pada dada sang pemuda, seraya berdo’a “Ya Allah sucikan hatinya, ampuni dosanya, dan pelihara kehormatannya”. Setelah itu, tidak ada yang paling dibenci pemuda itu kecuali Zina. (al-Manar, juz 4 hlm. 33).

Hadits ini, memberikan pemahaman yang sangat mendalam tentang bagaimana sikap dan prilaku kita terhadap orang lain. Apakah yang saya lakukan baik bagi orang lain atau tidak? Apakah yang saya lakukan memberikan dampak yang buruk bagi orang lain atau tidak? Hadits ini juga menggugah kesadaran kita untuk selalu berefleksi (merenungkan secara mendalam), yaitu mencoba merasakan pengalaman orang lain sebagaimana orang itu mengalaminya sendiri. Atau dalam bahasa Martin Buber, Filosof eksistensialis adalah making present, “menghadirkan”. Dalam pendidikan, model ini sering disebut sebagai metode reflektif, yaitu pendekatan pembelajaran yang mencoba menggugah perasaan dan penghayatan siswa terhadap pengalaman orang lain.

Persoalannya adalah dapatkah seseorang mampu merasakan pengalaman seseorang dalam dirinya? Dapatkah setiap orang merasakan “kegelisahan” oarang lain? Tidak selalu. Sebenarnya, secara potensial manusia dibekali kemampuan tersebut. Tetapi ada yang mampu mengaktualisasikan dan ada yang tidak.

Ketika Rasulullah diberi tahu bahwa setelah beliau meninggal, akan ada bencana besar yang akan menimpa umatnya, beliau langsung gelisah, tidak bisa tidur. Bahkan beliau dilaporkan tidak pernah tersenyum setelah itu. Dengan indah al-Qur’an menggambarkan pengalaman Rasulullah ini “telah datang kepadamu Rasul dan kaumnya sendiri berat baginya kepedihan yang ditanggung. Ia ingin sekali kamu memperoleh kebahagiaan, ia sangat lembut dan sangat penyayang kepada kaum mukminin (QS. Al-Taubah ; 128). Pada diri Nabi, seluruh potensi ini, teraktualisasi dengan sempurna.

Bersedihkah kita, ketika melihat anak-anak harus meninggalkan sekolah karena kurang biaya? Pedihkah hati kita, ketika menyaksikan saudara-saudara kita kelaparan, sementara kita hidup bermewah-mewah? Pantaskah kita bangga dengan agama kita, sementara saudara se-Islam dengan kita, tidak merasa tenang karena kedengkian dan kebencian kita? Mungkin kita menjawab “tidak” untuk pertanyaan itu, tetapi jangan-jangan “tidak” kita tidak sama dengan “tidak”nya pemuda yang menghadap Nabi tersebut. “Tidak” kita karena terlalu sulitnya untuk merasakan pengalaman orang lain, meskipun mereka saudara-saudara seiman dengan kita. Wallahu a’lam bi al-Showab.

Today, there have been 7 visitors (23 hits) on this page!

=> Do you also want a homepage for free? Then click here! <=